KARYA SBF: Budaya

Yang gue tau, suatu hal bisa dikatakan budaya ketika udah melekat erat di dalam suatu komunitas masyarakat. Menjadi kebiasaan yang diwariskan ke generasi berikutnya sebagai suatu kebanggaan dan ciri khas mereka. Yang jika ada seorang asing bertamu akan terkagum karenanya.

Seperti suatu hari itu, berapa tahun lalu saat gue masih SMP. Sebagai orang luar kalian akan disapa layaknya kenalan dekat mereka. Budaya 5S, kalau orang-orang bilang. Mungkin hari lo lagi jenuh, atau mungkin lo terlalu capek buat sekadar tersenyum. Tapi sedikit sapaan dan senyuman orang asing bisa ngubah mood lo seharian. Setidaknya itulah yang gue kenal tentang Senyum Salam Sapa Sopan dan Santun. Sebuah budaya yang digemborkan di berbagai lingkungan manapun untuk diterapkan.

Atau seperti cerita Ospek yang gue denger dari pulau kecil maju di sebelah Nusantara. Mereka diberi tugas untuk membuat bahagia orang-orang yang bahkan mereka tak tau. Hanya sekadar senyum, semangat dan memberi ‘tos’ kepada pekerja yang sedang menunggu kereta berangkat, setidaknya mereka sudah memberi sedikit kebahagiaan bagi mereka.

Lalu gue bertemu dengan suatu lingkungan yang menjanjikan budaya tersebut. Dari mulai awal penyambutan keluarga baru kami disambut hangat dengan sapaan selamat pagi. Sebegitu banyak sampai kami lelah juga menjawabnya. Sepanjang orientasi pengenalan kami juga diminta untuk meneruskan budaya di sana : Senyum Salam Sapa Sopan Santun.

Lalu gue jalani hari di sana sembari menyapa orang-orang, termasuk yang tidak gue kenal sekalipun. Bahagia juga melihat mereka yang sedang menggerutu berubah senyum, dan mereka yang murung berubah ceria. Walaupun tak sedikit juga yang berlalu saja tanpa melempar sapa atau bertegur senyum, namun itu tidak seberapa. Mungkin mereka sedang terburu atau mengejar tugas yang tak kunjung usai.

Namun

Semakin hari gue gak nemuin sapaan kepada gue sendiri. Setidaknya dari orang yang gak gue kenal.

Gue penasaran, karena gak gue cermatin baik-baik.

Kemudian tiba satu hari, di mana gue mencoba untuk bertindak seperti mereka : orangorang murung yang minta disapa. Dari pagi hingga sore hari gue hanya menegur orang yang gue kenal, tanpa sedikitpun menegur atau memberi sedikit senyum kepada mereka yang asing.

Mau tau bagaimana hasilnya?

Tidak satupun hari itu ada yang menyapa
Bahkan hanya sekadar membuat sedikit senyuman
Semua orang sibuk
Tidak ingin menuduh apapun kepada siapapun

Tapi
Hanya menyampaikan cerita.
Ada yang berkata dia takut untuk gak disapa balik
Ada yang beranggapan dia memang menunggu disapa untuk liat implementasi 5s oleh keluarga baru

Suatu saat bertemu, kenapa kita gak langsung nyapa aja duluan?
Jika saling menunggu, siapa yang bakal lebih dulu
Bukankah kebaikan lebih enak jika dilakukan tanpa berharap?

 

Hidayatul Fikri
Ilmu Komputer 2017
1706022880

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X