KARYA SBF: Mau Teratur? Antri Yuk!

Sudah biasa untuk kita masuk ke Indomaret kemudian mengantri untuk melakukan pembayaran dan tiba-tiba diselak oleh orang lain. Sesuatu yang sangat menjengkelkan, tetapi masyarakat kita sudah sangat permisif akan hal semacam itu dan sudah dianggap biasa. Mengapa banyak orang di masyarakat kita bisa memiliki mental seperti ini?

Antri dalam Bahasa Indonesia artinya ‘berdiri berderet-deret ke belakang menunggu untuk mendapat giliran.’ Ke belakang – bukan ke samping, guys… Saya pikir alasan mengapa budaya mengantri ini tidak terlalu diaplikasikan di masyarakat kita adalah karena pada umumnya, kita tidak dibiasakan untuk menghargai hak orang lain, yaitu hak untuk mendapat pelayanan sesuai urutan.

Selama ini yang menjadi pemikiran saya ketika melihat orang diselak saat mengantri, mengapa orang yang diselak tidak protes dan menegur orang yang menyelak tersebut? Hipotesis A: orang tersebut tidak cukup berani untuk melakukan itu. Hipotesis B: orang tersebut memang suka melakukan hal yang sama, yaitu menyelak, sehingga dapat memaklumi ketika ia menjadi korban. Atau hipotesis C: orang tersebut sudah apatis terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya – dalam kata lain, tidak peduli.

Ketika saya sekolah di luar negeri, pada saat antri makan siang, siswa-siswa selalu antri dengan teratur. Kalau pun ada yang berusaha menyelak, sangat jarang terjadi. Itu tidak hanya di sekolah, tetapi juga di toko-toko kecil, di mal, dan sebagainya. Apabila kita sebagai pelanggan yang sudah menunggu selama 10 menit di sebuah restoran tiba-tiba diselak oleh pelanggan lain, pelayan restoran tersebut akan mengatakan “Sorry, Ma’am/Sir, these people queued first.” Para pelayan pun akan tetap menghormati hak kita dan tetapi melayani pelanggan yang sudah mengantri, tidak seperti di masyarakat kita.

Sekembalinya saya ke Indonesia, antri dengan teratur menjadi hal yang tidak lazim, baik di sekolah maupun di tempat umum. Secara pribadi, saya masih belum bisa menerima ini. Hanya karena sesuatu menjadi kebiasaan, bukan berarti hal tersebut dapat dibenarkan.

Seharusnya, pelajaran etika yang kita dapatkan di sekolah tidak hanya sekedar teori, tetapi harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah salah satu kekurangan yang kita harus
akui. Menurut saya, peran guru dan orang tua sangatlah penting dan mereka juga harus bisa mencontohkan etiket yang baik agar para siswa terbiasa, tidak hanya di sekolah atau di rumah, tetapi di mana pun.

 

Nardiéna Althafia Pratama
Ilmu Komputer 2017
1706067645

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X