#READMEdotMD ver 1.6 : Dilema Korban Kekerasan Seksual

#READMEdotMD ver 1.6 : Dilema Korban Kekerasan Seksual

8 Maret diperingati sebagai hari perempuan sedunia dan 21 April kita peringati sebagai hari Kartini. Namun, kasus-kasus pelanggaran HAM terhadap perempuan masih dapat kita temui. Data dari Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan 2017, terdapat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2016. Dari ranah personal, kekerasan seksual menempati peringkat presentase tertinggi kedua. Sementara dari ranah komunitas kekerasan seksual menempati peringkat pertama dengan presentase tertinggi. Dan kasus kekerasan seksual yang menempati peringkat pertama dari kedua ranah tersebut adalah pemerkosaan.

Beralih ke negara adidaya, Amerika Serikat, 1 dari 6 wanita Amerika telah mengalami percobaan pemerkosaan atau bahkan mengalami secara penuh. Akibat dari kekerasan seksual sendiri bermacam-macam. 94% korban mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) selama dua minggu setelah kejadian, sedangkan 34% korban mengalami PTSD sembilan bulan setelah kejadian. Selain itu, 33% korban pernah memikirkan untuk bunuh diri 13% korban melakukan percobaan bunuh diri. Tidak hanya itu, bahkan para korban kekerasan seksual cenderung lebih terdorong untuk memakai narkoba. Dampak yang dirasakan para korban sudahlah buruk, bahkan terkadang diperparah dengan suatu fenomena yang dapat kita temui di dunia nyata maupun dunia maya, yaitu victim blaming.

“Bajunya kebuka kali ya?”, “Pantes aja, seksi sih pakaiannya.”, “Tuh kan gara-gara bajunya kebuka, sih.” adalah kata-kata yang sering kita dengar atau lihat saat terjadi kasus pemerkosaan. Banyak orang masih menilai bahwasanya pemerkosaan utamanya terjadi karena pakaian korban yang memancing pelaku. Padahal sesederhana pertanyaan seperti, “Kamu waktu itu pakai baju seperti apa?” kepada korban pemerkosaan dapat dikategorikan sebagai victim blaming.
Terinspirasi dari victim blaming yang masih seringkali terjadi, salah satu organisasi di Brussels memamerkan pakaian-pakaian dari para korban pemerkosaan. Hasilnya mengejutkan. Mulai dari piama, tracksuit, seragam kepolisian, bahkan baju “My Little Pony” pun dapat kita temukan. Parahnya lagi, menurut data dari Komnas Perempuan, kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas perempuan semakin muncul ke permukaan. Selain itu, kasus pemerkosaan sering kali terjadi karena minuman beralkohol. Minuman beralkohol menjadi ‘penyemangat’ bagi seseorang yang sebenarnya sudah ada dorongan untuk melakukan pemerkosaan.

Satu hal lagi yang menurut saya perlu dituliskan adalah mengenai pasal zina pada RKUHP. Pada Pasal 484 Ayat (1) Huruf E draf RKUHP hasil rapat antara pemerintah dan DPR per 10 Januari 2018 menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan yang tidak terikat dalam perkawinan yang sah kemudian melakukan persetubuhan, maka akan dipidana paling lama 5 tahun penjara. Hal ini menimbulkan potensi bagi korban untuk terkena pidana. Si pelaku bisa saja mengaku atau memaksa korban untuk mengakui bahwa yang mereka lakukan terjadi atas dasar suka sama suka dan ketika korban sulit membuktikan bahwa yang terjadi merupakan kasus kekerasan seksual, korban bisa terkena hukuman pidana. Hal ini akan semakin membuat korban tidak berani melapor kepada pihak yang berwenang.

Setelah melihat berbagai pemaparan diatas, sejatinya dalam memberantas kasus kekerasan seksual diperlukan kerjasama setiap elemen. Mulai dari pemerintah, masyarakat, dan sebagainya. Sebagai seseorang yang bukan merupakan korban, tidaklah etis untuk menyalahkan korban entah karena pakaian, perilaku, dan lain-lain. Kita harus dapat membantu mereka menangani trauma yang mereka alami pasca kejadian bukan memperparah keadaannya. Pemerintah sendiri, harus dapat menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran serupa dan dengan konsekuensi yang tepat bagi si pelaku agar timbul rasa takut bagi mereka yang berniat untuk melakukan tindak pemerkosaan. Sebagai pria, kita harus dapat menjaga pandangan kita karena dengan seseorang berpakaian minim bukan berarti dia ingin disetubuhi atau dilihat dari atas sampai bawah. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Sumber:
http://www.independent.co.uk/life-style/rape-victims-clothes-displayed-brussels-belgium-debunk-victim-blaming-myth-a8152481.html
https://www.komnasperempuan.go.id/file/pdf_file/2017%20Siaran%20Pers/Lembar%20Fakta%20Catahu%202017.pdf
https://www.rainn.org/statistics/victims-sexual-violence
https://lifestyle.kompas.com/read/2016/05/22/195714723/ini.pemicu.remaja.lakukan.pemerkosaan
https://geotimes.co.id/kolom/yuyun-dan-logika-pemerkosaan-masyarakat/
http://www.tribunnews.com/regional/2016/12/27/netizen-murka-sangat-murka-tanggapi-pemerkosaan-keji-siswi-sma-di-pematangsiantar?page=4
https://www.kompasiana.com/nengo/etiskah-menyalahkan-korban-perkosaan_5733091c2f7a612d09486704

Oleh : Muhammad Al-Kautsar Maktub

Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM Fasilkom UI 2018
#KolaborasiDalamAksi
@BEMFasilkomUI
bem.cs.ui.ac.id

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X