#READMEdotMD ver 1.8 : Apa Kabar Novel Baswedan?

#READMEdotMD ver 1.8 : Apa Kabar Novel Baswedan?

Kemelut kasus penyiraman air keras kepada salah satu petinggi KPK yang terjadi pada 11 April 2017 lalu rupanya belum juga usai. Novel Baswedan yang kala itu hendak pulang selepas salat subuh di Masjid Al Ihsan yang hanya berjarak kurang lebih 30 meter dari rumahnya, tiba-tiba saja disiram dengan air keras oleh dua orang tak dikenal yang berboncengan mengendarai sepeda motor. Akibat dari penyerangan ini Novel harus rela diterbangkan ke Singapura pada 12 April 2017 untuk menjalani pengobatan dan baru kembali ke tanah air pada 22 Februari 2018 setelah lebih dari 10 bulan menjalani perawatan medis pasca insiden penyiraman air keras terhadapnya.

Sebagai penyidik senior yang sudah bergabung dengan KPK sejak 2007 dan pernah menjadi Kepala Satuan Tugas yang menangani beberapa perkara besar kasus korupsi, tentunya deretan teror dan ancaman seolah menjadi hal yang lumrah bagi Novel. Pada Oktober 2012 misalnya, Novel pernah ditangkap atas tuduhan penembakan terhadap pencuri sarang burung wallet yang terjadi tahun 2004 saat ia masih tercatat sebagai anggota kepolisian Polres Bengkulu. Bertepatan dengan ancaman pidana yang diterimanya, kala itu Novel juga sedang mengusut kasus korupsi simulator SIM yang menjerat Inspektur Jenderal Djoko Susilo. Selain itu saat sedang menyelidiki kasus reklamasi Jakarta, Novel pernah ditabrak mobil saat mengendarai sepeda motor pada bulan Juli dan Agustus 2016.

Kasus penyiraman air keras yang terjadi pada April 2017 terhadap Novel menjadi polemik yang berhasil menarik atensi publik terkait problematika penegakan hukum di Indonesia. Penangangan kasus yang terkesan lamban dan ketidakjelasan perkembangan penyidikan yang dilakukan oleh Polri berujung dengan munculnya spekulasi dari berbagai pihak. Hal inilah yang kemudian dikhawatirkan akan mengancam reputasi Polri sebagai lembaga yang mempunyai kewenangan dalam meneggakkan hukum dan menangani kasus pidana umum.

Berkaca pada kinerja Polri dalam menangani kasus ini, muncul suara dari berbagai pihak yang mendorong pimpinan KPK untuk mengusulkan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus penyerangan Novel Baswedan kepada Presiden Joko Widodo. Desakan dari masyarakat terkait pembentukan TGPF juga semakin lantang digaungkan, salah satunya dapat terlihat dari ditandatanganinya petisi yang mendukung dibentuknya TGPF oleh lebih dari 114.000 rakyat Indonesia (5/7/18). Hal ini seolah menjadi cerminan bahwa rakyat mempunyai ekspektasi yang tinggi dengan bagaimana cara negara mengambil sikap terhadap upaya-upaya kekerasan serta pelemahan penegak hukum dan semua personil yang terlibat dalam pemberantasan korupsi.

Sudah lebih dari satu tahun kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan yang ditangani Polda Metro Jaya bergulir, namun sangat disayangkan tak kunjung menunjukkan titik terang. Bahkan sampai saat ini belum ada satu pun terduga pelaku yang dijadikan tersangka. Hal tersebut seolah menjadi alasan kuat yang mendukung Novel untuk melaporkan kasusnya ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Laporan Novel disambut baik oleh Komnas HAM degan dibentuknya Tim Pemantauan yang diketuai oleh Sandrayati Moniaga karena melihat penangan kasus ini terkesan berlarut.

Terlepas dari belum terungkapnya kasus yang berdampak pada kedua mata Novel, muncul desas-desus bahwa dirinya akan segera kembali bertugas ke KPK pada bulan Mei 2018. Rasanya hal ini masih belum bisa terwujud mengingat kedua mata Novel belum bisa bekerja secara normal seperti sediakala, ia mengatakan bahwa masih belum bisa membaca dan melihat dengan jelas. Saat ditemui seusai membacakan laporan pertanggungjawaban dalam musyawarah umum anggota Wadah Pegawai KPK, di gedung KPK pada 3 Mei 2018, Novel mengatakan bahwa dirinya berdoa semoga Wadah Pegawai KPK bisa melakukan hal-hal yang lebih optimal, bisa membantu pimpinan, struktural, dan mendorong agar lembaga KPK secara kelembagaan bisa melakukan tugas-tugas yang lebih kuat, lebih progresif dalam rangka memberantas korupsi di Indonesia. Novel juga berharap pegawai KPK dapat lebih berani, lebih kuat, dan independen

Sumber :
-https://tirto.id/jejak-novel-baswedan-dan-teror-teror-yang-dialaminya-cmrQ
-https://nasional.kompas.com/read/2018/02/28/15133931/jokowi-ingin-dengar-laporan-kapolri-sebelum-putuskan-tgpf-kasus-novel
-https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180503195146-12-295536/novel-baswedan-ingin-segera-kembali-bekerja-di-kpk

 

Oleh: Tri Rahayu

Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM Fasilkom UI 2018
#KolaborasiDalamAksi
@BEMFasilkomUI
bem.cs.ui.ac.id

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X