#READMEdotMD ver 2.1: Menyikapi Aksi Terorisme

Aksi terorisme yang terjadi di Mako Brimob Depok, tiga gereja di Surabaya, rusunawa di Sidoarjo, dan Mapolda Riau benar-benar mengguncang publik. Saat perhatian publik tertuju pada naiknya dollar Amerika, 2 Dekade Reformasi, dan kasus-kasus korupsi yang melanda negeri, munculnya aksi terorisme sukses menjadi topik utama. Baik berita di tv maupun media sosial isinya hanya membahas kejadian teror ini. Bagai peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga, aksi terorisme ini seakan menambah rumit polemik yang telah terjadi di negeri ini, serta menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, kalau-kalau daerah tempat tinggalnya adalah target selanjutnya.

Masyarakat pun beramai-ramai menyampaikan belasungkawa melalui media sosial. Diantaranya ada juga yang memberikan semangat bagi para korban untuk tetap menjalankan hidup. Muncul pula hashtag #KamiTidakTakut, yang menunjukkan bahwa masyarakat berdiri bersama para korban, bersatu untuk melawan teroris dan tidak takut akan ancaman yang ditebar para pelaku teroris.

Namun yang membingungkan, di tengah dukacita dan kekhawatiran yang merebak di masyarakat, masih ada saja pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi genting ini untuk memicu konflik, dimana mereka menyebarkan berita palsu (hoax) maupun asal-asalan menuduh tanpa bukti konkret. Ada yang menyatakan bahwa aksi teror ini merupakan pengalihan dari isu isu yang terjadi belakangan. Bahkan ada yang saling menyalahkan, dengan menyudutkan pihak-pihak tertentu tanpa alasan yang jelas. Alih-alih menyampaikan ucapan belasungkawa dan memberikan semangat saja, justru ucapan-ucapan belasungkawa ‘dibumbui’ oleh ujaran-ujaran kebencian, yang tentu dapat dengan mudah mempengaruhi orang-orang yang berwawasan kurang. Dan dampaknya pun akan terjadi ketidakharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Saya pun jadi bertanya-tanya, bukankah tujuan dari teroris adalah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat? Lalu apa bedanya teroris dengan para penebar hoax dan ujaran kebencian?

Sayangnya masih cukup banyak orang yang terpengaruh oleh hoax-hoax yang beredar, dan tanpa mencari tahu lebih lanjut menyimpulkan apa yang baru saja mereka dapat adalah sebuah kebenaran. Selain itu, pasal dalam undang-undang yang dipakai untuk menjerat orang-orang seperti ini pun masih dianggap sebagai pasal karet, dengan parameter-parameter yang kurang jelas. Terduga dapat dengan mudah menyatakan pembelaan untuk menarik simpati masyarakat dengan alasan kriminalisasi. Tentu saja, penebar kebencian dan hoax makin subur berkembang di negeri ini.

Oleh sebab itu, selain mengutuk keras tindakan terorisme, saya juga mengutuk keras para penebar hoax yang berkeliaran meresahkan masyarakat, karena penyebar hoax tak ubahnya adalah teroris yang mengancam keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Marilah kita bersama-sama merapatkan barisan dalam semangat persatuan dan toleransi untuk mencegah teroris dunia nyata maupun ‘teroris’ dunia maya!

 

Oleh:
Rhendy Rivaldo

 

Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM Fasilkom UI 2018
#KolaborasiDalamAksi
@BEMFasilkomUI
bem.cs.ui.ac.id

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X