#READMEdotMD ver 3.1 : #WowoSayangWiwi

#READMEdotMD ver 3.1 : #WowoSayangWiwi

Berbagai momen saat Asian Games 2018 ditampilkan di closing ceremony. Salah satunya adalah saat Joko Widodo dan Prabowo Subianto berpelukan. Momen-momen itu ditampilkan lewat video di tengah closing ceremony Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (2/9/2018). Lewat video, tampak momen saat atlet pencak silat Hanifan Yudani memeluk Jokowi dan Prabowo usai dia meraih emas di pertandingan pencak silat[1].

Hasil survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) kepada para pemuda mengenai pekerjaan yang mereka inginkan di masa mendatang, politisi menjadi salah satu pekerjaan yang sedikit dipilih kaum muda. Pekerjaan yang menempati urutan pertama dan kedua adalah wiraswasta dan PNS. “Hanya 21 persen pemuda yang tertarik dengan politik, sisanya tidak tertarik. Politik belakang makin menjauhi anak muda. Pekerjaan yang mereka inginkan wiraswasta dan PNS,” ujar peneliti LSI, Burhanuddin Muhtadi dalam diskusi bertemakan ‘Kaum Muda Indonesia Menggugat: Konsolidasi Kebangsaan Menuju Keadilan Sosial’, di Gedung Joeang, Jakarta, Rabu (15/8/2012). Menurut Burhanuddin, alasan yang paling utama adalah mengenai citra politik itu sendiri. Apalagi ditambah dengan serangan dunia maya yang membuat pemuda menjadi tak berminat[2].

Politik kian memberikan stigma buruk kepada masyarakat. Mengingat banyak hal-hal yang tidak patut menjadi teladan terjadi di bidang politik, ditambah dengan politik yang memang disorot oleh khalayak ramai. Alhasil, banyak orang terlanjur menganggap politik dipenuhi oleh intrik-intrik kotor yang sebenarnya hanya bagian dari kesalahan para aktor yang menjadi oknum dalam panggung politik. Padahal, menurut Aristoteles, manusia adalah zoon politicon, makhluk yang berpolitik. Negara terbentuk karena adanya manusia saling membutuhkan. Manusia bukanlah makhluk yang bisa hidup tanpa manusia lain. Menurut Aristoteles, negara adalah lembaga politik yang paling berdaulat, meski bukan berarti negara tidak memiliki batasan kekuasaan. Negara memiliki kekuasaan tertinggi hanyalah karena ia merupakan lembaga politik yang memiliki tujuan yang paling tinggi dan mulia (Suhelmi, 2007)[3].

Sebenarnya banyak hal baik yang dapat disebarkan melalui politik, sebagaimana Prabowo dan Jokowi yang berpelukan bersama atlet pencak silat Hanifan. Usai kehebohan berpelukannya Jokowi dan Prabowo, muncul hashtag atau tanda pagar #wowosayangwiwi di media sosial Twitter. Wowo merujuk kepada nama Prabowo, dan Wiwi merujuk kepada Jokowi[4]. Sejenak, kehebohan ini memberikan kesan adem selama berbagai letupan-letupan sebelum Pilpres 2019 mendatang. Semoga peran yang sama dapat ditiru oleh politisi-politisi tanah air lainnya.

Daftar Pustaka:

[1] Kami, I. M. (2018). Momen Prabowo-Jokowi Pelukan Ditampilkan di Closing Asian Games. 2 September 2018. detikNews. https://m.detik.com/news/berita/4194081/momen-prabowo-jokowi-pelukan-ditampilkan-di-closing-asian-games.
[2] Lestari, M. (2012). Survei LSI: 79 Persen Pemuda Tak Tertarik Politik. 6 Agustus 2012. merdeka.com. https://m.merdeka.com/politik/survei-lsi-79-persen-pemuda-tak-tertarik-politik.html.
[3] Suhelmi, A. (2007). Pemikiran Politik Barat : Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat, dan Kekuasaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
[4] Prawira, A. (2018). Jokowi-Prabowo Berpelukan, Kicauan Wowo Sayang Wiwi Bemunculan. 30 Agustus 2018. SINDOnews. https://nasional.sindonews.com/read/1334239/12/jokowi-prabowo-berpelukan-kicauan-wowo-sayang-wiwi-bemunculan-1535609413.

#WowoSayangWiwi
#READMEdotMD
#AKSIdotEXE

Oleh:
Hidayatul Fikri

Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM Fasilkom UI 2018
#KolaborasiDalamAksi
@BEMFasilkomUI
bem.cs.ui.ac.id

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X