#READMEdotMD ver 3.2 #2019GantiPresiden, Tujuannya?

#READMEdotMD ver 3.2 #2019GantiPresiden, Tujuannya?

Gerakan bertagar #2019GantiPresiden diperkenalkan oleh politikus dari Partai Keadilan Sejahtera yaitu Mardani Ali Sera. Ia menyatakan “Gerakan ini tidak bicara tentang calon presiden, itu semua diserahkan kepada proses politik, fokus gerakan ini menjadi pressure grup ,menjadi pendidikan politik agar negeri ini tahu bahwa hak bicara usaha ganti presiden legal dan konstitusional selama dilaksanakan dalam Pilpres 17 April 2019”. Mardani juga menyebutkan bahwa tagar ini merupakan antitesis dari kampanye pendukung Joko Widodo di media sosial.

Belakangan ini, gerakan #2019GantiPresiden semakin mencuat ke publik akibat adanya “penghadangan” yang dilakukan oleh massa terhadap Neno Warisman di Pekanbaru dan Ahmad Dhani di Surabaya. Terlepas dari benar atau tidaknya aksi penghadangan tersebut, tentu tujuan sebenarnya dari gerakan bertagar ini patut juga dipertanyakan. Jika melihat pernyataan Mardani terkait fokus gerakan yang diperkenalkannya, tentu sudah jelas bahwa pemilihan presiden harus diserahkan kepada proses politik, tidak ada proses lain. Dan sudah jelas pula bahwa hak bicara perihal ganti presiden legal dan sesuai konstitusi. Memang, pihak yang disasar disini sudah jelas, yaitu Presiden saat ini, Joko Widodo. Namun, jika melihat waktu inisiasi gerakan ini, saya menyimpulkan bahwa gerakan ini dimulai terlalu cepat. Bahkan rangkaian acara Pemilihan Presiden pun baru sekedar sampai deklarasi calon presiden dan wakil presiden. Masa kampanye pun masih jauh. Lantas apa tujuannya menggebu-gebu menyuarakan ganti presiden sekarang ini? Bukankah lebih baik kita bekerja bersama-sama membenahi negeri ini, selagi menunggu Pemilu 2019 datang?

Mardani selaku pentolan gerakan ini juga pernah menyatakan, seperti dikutip oleh Kompas, bahwa dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo upaya mewujudkan Pancasila hanya omong belaka. Sehingga gerakan tersebut akan mendukung siapapun yang mampu memperjuangkan Pancasila secara nyata. Pernyataan ini juga membuat bingung, mengingat gerakan ini juga belum menunjukkan siapakah pengganti presiden kelak (yang katanya harus memperjuangkan Pancasila agar terwujud nyata) apabila memang benar-benar 2019 ganti presiden. Ini juga yang membuat gerakan ini terkesan ‘kebelet’ dan kurang matang. Bagaimana mewujudkan Pancasila, jika kita bahkan belum tahu siapakah yang akan mengemban tugas tersebut sebagai pemimpin nantinya?

Terlebih lagi ketika melihat dan mendengarkan lagu 2019 Ganti Presiden ciptaan Sang Alang, tampak jelas lirik-lirik yang sarat akan generalisasi dan cenderung hoax serta melebih-lebihkan, meski ada beberapa poin yang benar nyata adanya. Jujur, saat pertama kali mendengar lagu ini, saya tersenyum kecil mendengar lirik demi lirik dalam lagu ini. Ini semakin menunjukkan bahwa gerakan ini tercipta secara terburu-buru dan cenderung memaksakan kehendak. Perlu diingat, jelang Pemilu 2004, Iwan Fals juga merilis lagu berisi kritik terhadap presiden kala. Namun lagu tersebut dikemas secara santun dan didasarkan juga pada fakta-fakta yang ada pada waktu itu, bahkan tak sedikit orang-orang yang mendengarkan lagu tersebut sampai sekarang, karena memang terasa lebih mewakilkan suara rakyat kala itu.

Satu hal lagi yang sedikit mengganggu saya, yaitu pernyataan Ahmad Dhani ketika ia dihadang oleh massa di Surabaya. Ketika itu ia menyatakan bahwa para penghadang aksi gerakan tersebut adalah ‘idiot-idiot’ karena mendemo orang yang tidak berkuasa. Ingat ketika massa #2019GantiPresiden demo di depan gerai Markobar milih anak presiden Jokowi, Gibran?

Menurut saya pernyataan tersebut sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang publik figure, terutama sebagai salah satu tokoh penting dalam gerakan #2019GantiPresiden ini, sehingga pernyataan tersebut dapat menodai ‘wajah’ gerakan itu sendiri, serta juga beresiko menimbulkan ketegangan antar pendukung kedua kubu. 2019 pun belum, masa sudah panas duluan?

Sebagai catatan, tentu saya setuju bahwa gerakan #2019GantiPresiden ini merupakan bentuk demokrasi di negeri ini, dimana setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya. Saya pribadi juga kurang setuju dengan adanya penghadangan di berbagai kota terhadap deklarasi gerakan ini. Saya hanya kurang setuju terkait waktu dan persiapan gerakan ini. Alangkah baiknya apabila kita melangkah menuju 2019 nanti dengan semangat persatuan, dan mendukung siapapun presiden yang terpilih kelak, toh kita sebagai warga negara tentu memiliki tujuan yang sama yaitu membawa negeri ini ke arah yang lebih baik.

Daftar Pustaka
[1] Sudrajat. (2018). Gerakan ‘2019 Ganti Presiden’ Kenapa Dihadang?. 27 Agustus 2018. www.detik.com. https://news.detik.com/kolom/4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-dihadang.
[2] Lubis, A. (2018). Gerakan 2019 Ganti Presiden dan Mengapa Tidak Nyatakan Siapa Gantinya?. 7 Mei 2018. www.kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/marayackandostorang/5af02a545e137316f03dfb24/gerakan-2019-ganti-presiden-dan-mengapa-tidak-nyatakan-siapa-gantinya.
[3] Sukmana, Y. (2018). Gerakan #2019GantiPresiden Tak Tutup Peluang Dukung Jokowi, Asal… . 6 Mei 2018. www.kompas.com. https://nasional.kompas.com/read/2018/05/06/12515661/gerakan-2019gantipresiden-tak-tutup-peluang-dukung-jokowi-asal.
[4] Tim Editorial Kumparan. (2018). Ahmad Dhani Dikepung di Hotel Surabaya: Ini Idiot-Idiot. 26 Agustus 2018. www.kumparan.com. https://kumparan.com/@kumparannews/ahmad-dhani-dikepung-di-hotel-surabaya-ini-idiot-idiot-1535260169811319357.

#2019BenahiNegeri
#READMEdotMD
#AKSIdotEXE

Oleh:
Rhendy Rivaldo

Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM Fasilkom UI 2018
#KolaborasiDalamAksi
@BEMFasilkomUI
bem.cs.ui.ac.id

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X