#READMEdotMD ver 3.3 : Bahasaku Bahasaku, Bahasamu Bahasamu

#READMEdotMD ver 3.3 : Bahasaku Bahasaku, Bahasamu Bahasamu

“Gua sebenarnya rada confuse gitu sih, which is gua rada kurang understand gitu.”

“Ya actually gua juga ga tau apa yang literally lo maksud.”

Percakapan diatas atau yang semacam diatas memang terkadang tidak asing di telinga kita. Bahkan bukan hanya di telinga, bisa jadi mulut kita pun mempraktikkannya. Selain itu, fenomena tersebut juga saat ini sedang menjadi candaan banyak orang. Candaan yang banyak dari kita mengetahuinya sebagai candaan bahasa “Anak Jaksel”.[1]

Candaan “Anak Jaksel” yang berawal dari media sosial khususnya Twitter ini sebenarnya dikenal dengan sebutan Code-Mixing atau Campur-Kode. Campur-Kode sendiri adalah kondisi dimana seorang penutur bahasa mencampurkan kode-kode suatu bahasa dengan bahasa lainnya.[2] Namun, ternyata hal tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa adanya sesuatu yang melatarbelakangi.

Kebiasaan. Campur-kode tidaklah terjadi hanya di kalangan “Anak Jaksel”.[1] Dari 265 juta jiwa penduduk Indonesia, campur-kode bisa terjadi dimana saja dan oleh siapa saja.[1][4] Bahkan campur-kode juga kerap terjadi di kalangan selebriti negeri ini.[5] Semua itu bukan tidak mungkin terjadi akibat dari kebiasaan si penutur bahasa.[1][5]

Menyampaikan pikiran. Selain kebiasaan yang sudah tentu memengaruhi si penutur bahasa, tujuan dari si penutur bahasa karena ingin menyampaikan pikirannya juga bisa menjadi sebuah faktor. Namun, bukan tidak mungkin juga campur-kode terjadi karena si penutur bahasa ingin terlihat beda atau terlihat keren. [1]

Selain campur-kode terdapat juga Code-Switching atau Alih-Kode. Alih-kode sendiri adalah gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubah situasi (Chaer, 2002:106). [2] Salah satu faktor yang bisa memengaruhi terjadinya alih-kode sendiri adalah karena si penutur bahasa sedang berlatih menggunakan suatu bahasa tertentu. [3] Kemudian dimana perbedaan di antara campur-kode dan alih-kode? Menurut Chaer (2010:114) bila suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain maka disebut alih-kode. Sedangkan bila suatu peristiwa tutur klausa-klausa dan frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur-kode.[2]

Terlepas dari campur-kode maupun alih-kode dalam berkomunikasi satu sama lain, alangkah lebih baiknya jika kita tidak melakukannya apabila hanya ingin terlihat keren. Walaupun hal tersebut dianggap sebuah kewajaran. [1] Selain itu, hal ini bisa saja menimbulkan kebingungan bagi seseorang yang tidak terbiasa. Namun, jika faktor-faktornya adalah karena sedang berlatih menggunakan bahasa tertentu mengingat ada lebih dari 7000 bahasa di dunia maupun karena ingin menyampaikan pikirannya dan belum terbiasa dengan bahasa yang bersangkutan, maka hal tersebut dapat dimaklumi.[6] Karena bukankah komunikasi antar satu sama lain adalah hal yang penting?

Daftar Pustaka:

[1] Azanella, Luthfia Ayu. (2018). Candaan Gaya Berbahasa “Anak Jaksel, Mengapa Fenomena Ini Terjadi?. 14 September 2018. Kompas.com. https://megapolitan.kompas.com/read/2018/09/14/07185141/candaan-gaya-berbahasa-anak-jaksel-mengapa-fenomena-ini-terjadi.

[2] Yendra. (2018). Mengenal Ilmu Bahasa (Linguistik). Yogyakarta: deepublish.

[3] Kushartanti. (2007). Pesona bahasa: langkah awal memahami linguistik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

[4] Katadata. (2018). 2018, Jumlah Penduduk Indonesia Mencapai 265 Juta Jiwa. 18 Mei 2018. Katadata.co.id. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/05/18/2018-jumlah-penduduk-indonesia-mencapai-265-juta-jiwa.

[5] Luziana, Amelia Rosa; Sarwendah, Pininto; Yuliana, Nana. (2015). Code-Mixing and Code-Switching of Indonesian Celebrities: A Comparative Study. 1 Mei 2015. https://www.researchgate.net/publication/304427831_Code-Mixing_and_Code-Switching_of_Indonesian_Celebrities_A_Comparative_Study.

[6] Simons, Gary F. & Charles D. Fennig. (2018). Ethnologue : Languages of the World, Twenty-first edition. 2018. Ethnologue.com. https://www.ethnologue.com/statistics.

#READMEdotMD
#AKSIdotEXE

Oleh:
Muhammad Al-Kautsar Maktub

Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM Fasilkom UI 2018
#KolaborasiDalamAksi
@BEMFasilkomUI
bem.cs.ui.ac.id

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X